GOLPUT “LAHAR DINGIN”


GOLPUT “LAHAR DINGIN”

“Wuah…..apa lagi ini…..!” inilah kemungkinan sepatah kata yang akan keluar ketika membaca sepotong judul diatas. Bisa ya, juga bisa tidak. Terlepas dari semua itu perlu disadari bahwa bangsa kita saat ini sementara diambang keragu – raguan terhadap segala bentuk kepemimpinan sebagai penentu kebijakan dimasa yang akan datang. Ragu terhadap kompetensi partai, ragu terhadap sikap wakil rakyat dan krisis kepercayaan nasional.

Golput……

Maraknya partai baru peserta pemilu, bukan tidak baik, …baik bahkan sangat baik karena ini sebagai perwujudan dari amanat reformasi, menuju cita – cita Negara yang lebih demokratis, Negara multi partai, Negara yang berbhineka tunggal ika. Semua ini akan menjadi suatu kekayaan bangsa yang ternilai harganya apabila semua berjalan sesuai dengan apa yang dicita – cita, berjuang demi bangsa, bukan demi partai atau golongan tertentu. Tetapi jangan salah, sadar atau tidak bahwa kehancuran bangsa ada di depan mata, apabila masing – masing golongan dan partai berjuang demi kepentingan golongannya sendiri. Rekruitmen calon legislative dari setiap partai peserta pemilu, khususnya partai baru cenderung mengesampingkan nilai – nilai kompetensi yang dibutuhkan sebagai wakil rakyat, dan mengedapankan anggota kelompok, hubungan keluarga, kerabat, anak, menantu bahkan pembantu, yang nota bene tidak/kurang memiliki kemampuan dibidang organisasi, apalagi pegalaman berpolitik. Ini sebenarnya juga tidak salah dan ini juga bukan tanpa alasan, benar …..dan selalu benar.

Alasan perekrutan yang demikian adalah :

1. Sebagai penyambung generasi demi kelangsungan organisasi/partai (kan…partai keluarga ?)

2. Mengisi kekosongan yang ada, dan upaya penyelamatan anggaran partai (biar dapat dinikmati demi alasan kekeluargaan)

3. Adu untung, kalau terpilih jadi wakil rakyat baik, tidak juga tidak apa – apa (lah…kalau sudah tahu bakal tidak dipilih karena rasa diri tidak berkualitas, ngapain ngikut –ngikut…., itu apa namanya ?)

4. Sebagai sarana untuk belajar berpolitik(wuah…..apalagi ini, belajar kok jadi anggota legislative, ….buih….!, kalau belajar pasti ada ujian, kalau lulus apa nama ijazah dan gelarnya….he….he….he…..?)

Golput…………

“Golongan Putih” yaitu golongan atau kelompok yang mengambil sikap untuk tidak bertindak, tidak berpartisipasi atau tidak berbuat sesuatu terhadap sesuatu itu sendiri karena suatu alasan tertentu yang bersifat mendasar. Sikap ini adalah pilihan yang merupakan bagian dari hak azasi setiap orang, sesuai dengan Bagian Kelima, pasal 23 UU HAM RI No. 39 Tahun 1999 yaitu Hak Kebebasan Pribadi. Penentuan dan pilihan bertindak didasarkan pada hati nurni setiap pribadi. Golput adalah pilihan, yang posisinya sama dengan pilihan yang lain. Ditengah arus politik dan kondisi social yang semakin tidak menentu, bercampur aduknya kepentingan pribadi, golongan dan bangsa semakin tidak jelas dan kabur. Kondisi pereknomian yang terasa semakin berat, harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, kelangkaan bahan bakar minyak, PHK, KORUPSI dan sederet kondisi yang lain merupakan pupuk penyubur bagi tumbuhnya Golput, ditengah ladang garapan politik pada musim PEMILU atau PILPRES, karena bibit golput sebenarnya sudah lama ada dihati setiap orang, seiring dengan pertumbuhan peradaban manusia itu sendiri, hanya karena alasan tertentu tidak berani untuk memunculkan ke permukaan.

Golput akan semakin subur dan akan semakin besar menjadi suatu kekuatan yang tak terkalahkan dan akan menjadi hantu yang sangat mengerikan bagi pihak yang merasa dirugikan akibat sikap yang diambil oleh golput. Ancaman berkurangnya dukungan moril maupun materiil, hilangnya suara dalam pemilihan umum merupakan sesuatu yang tidak diharapkan menimpa bagi para calon legistlatif. Program sudah dipaparkan, janji sudah ditebarkan, kritik terhadap kebijakan sudah dilemparkan, bahkan modal milyaran sudah diguyurkan dan pada akhir nya gagal karena kurangnya dukungan suara. Ngeri juga kalau sampai seperti ini…….

Golput….oh golput……

Abstain……merupakan sikap pasif sebagai wujud dari ketidak setujuan terhadap sebuah keputusan dan sikap untuk tidak ikut bertanggung jawab atas akibat yang timbul dari sebuah keputusan atau kebijakan. Sebenarnya sikap abstain dan golput bisa dikatakan suatu tindakan yang serumpun, satu marga alias setali tiga uang, yang berarti sama saja. Beberapa waktu yang lalu sebuah kelompok di negeri ini mengeluarkan fatwa, salah satunya isi fatwanya mengharamkan Golput.

Ada apa dengan mereka yang mem fatwa kan golput, dan kenapa golput sebagai penderitanya? Sebuah pertanyaan yang mengundang berjuta jawaban, dan berpotensi memicu kesalah pahaman secara local maupun nasional. Golput merupakan lahar dingin politik, kekuatan yang tidak dapat diprediksikan besarnya, tapi sudah dapat diperhitungkan akibat yang dapat ditimbulkan. Kelompok penguasa dan kelompok yang merasa paling suci dan paling benar merasa terancam dengan keberadaan golput. Demi penyelamatan dan kelangsungan kekuasaan mereka dengan bersembunyi dibalik sebuah atribut maka lahirlah pernyataan – pernyataan yang bertujuan menekan dan menghambat pertumbuhan golput itu sendiri. Sejujurnya tidak ada alasan untuk resah, kalau tidak mau disebut ketakutan, dengan keberadaan golput. Kalau kita memilki sikap arif, kita harus mempu melihat bahwa sebenarnya golput tidak akan lahir jika tidak ada perkawinan poligami antara sifat serakah karena punya kuasa dengan kebohongan, ketidak tulusan, pengkhianatan yang membodohkan.

Kalau ini tidak segera kita sadari percaya atau tidak golput akan beranak cucu, cece, buyut, canggah….dan seterusnya….. Jadi…setuju atau tidak, haram atau tidak semua tergantung sikap kita dari sudut pandang mana cara melihat dan menyikapinya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat tulisan yang berasal dari suara hati yang paling dalam tidak bermaksud untuk menyakiti siapapun, dan sekiranya ditemui hal yang kurang berkenan kiranya mohon dimaklumkan. Selamat menentukan sikap.

Golput….oh…golput, bagaimana kalau Abstain…..(mbooh….wis, kareb mu…..!!!)

Ditunggu komentar Anda

Admin, Februari 2009.

2 Tanggapan

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang…
    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. Golput di fatwakan. Aneh, mengada-ngada dan dipaksakan….

    see. 10 alasan mengapa saya golput

    http://dreamindonesia.wordpress.com/2009/04/09/10-alasan-kenapa-saya-memilih-golput/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: